CHAPTER 20
Ringkasan Bahasa Indonesia
Ringkasan Bab 20: Keanehan Moral dan Intelektual Suku-Suku Pagan di Borneo
Bab ini mengumpulkan pengamatan tentang moral dan intelektual suku-suku pagan, terutama Kayan, yang belum dibahas sebelumnya.
Sanksi Sosial dan Tanggung Jawab Komunal
Di kalangan Kayan, sanksi atas tindakan dan penilaian moral adalah adat. Ketakutan terhadap Toh (roh) dan kemungkinan bencana bagi seluruh rumah menjadi pendukung adat. Prinsip tanggung jawab komunal membuat setiap orang peduli pada perilaku sesama dan mengembangkan rasa kewajiban terhadap komunitas. Karena komunitas kecil, tinggal dalam satu atap, dipimpin satu kepala, dan selalu bersaing dengan komunitas lain, anggota memiliki kesadaran kolektif yang kuat. Keterikatan ini diperkuat oleh sulitnya meninggalkan komunitas, karena seseorang tidak bisa bertahan sendirian.
Berkat faktor-faktor ini, kehidupan internal komunitas berjalan lancar, jarang ada pelanggaran serius, pertengkaran, atau pembangkangan terhadap kepala suku. Hukuman biasanya hanya berupa denda atau ganti rugi.
Namun, meskipun kondisi serupa, suku Dayak Laut, Klemantan, dan Murut tidak mencapai tingkat sosial dan moral setinggi Kayan. Di Murut dan Dayak Laut sering terjadi mabuk-mabukan dan pertengkaran, terutama soal kepemilikan tanah atau properti. Tingkat moral Kayan disaingi oleh Kenyah. Ini mungkin karena stratifikasi sosial tiga lapis yang jelas (bangsawan, menengah, bawah) di kedua suku tersebut, yang mendorong tanggung jawab dan teladan dari kelas atas.
Ilustrasi: Bayangkan sebuah desa kecil di mana semua orang saling kenal. Jika seseorang melanggar aturan, seluruh desa bisa kena dampaknya. Karena itu, setiap orang akan mengingatkan yang lain agar tidak berbuat salah. Inilah inti tanggung jawab komunal Kayan.
Hukuman Atas Pelanggaran Berat: Incest
Incest dianggap pelanggaran paling serius karena membawa bahaya bagi seluruh rumah, terutama gagal panen padi. Ada dua hukuman adat: (1) pelaku ditusuk bersama dengan bambu runcing hingga tertancap ke tanah di tempat terbuka, atau (2) dimasukkan ke keranjang rotan dan dibuang ke sungai. Metode kedua digunakan karena sulit mencari algojo yang bersedia menumpahkan darah anggota komunitas.
Bentuk incest yang paling umum adalah hubungan pria dengan anak angkat perempuan, dan ini paling dikutuk. Tujuannya untuk mencegah orang mengadopsi anak perempuan untuk dijadikan selir. Hubungan antara pemuda dan saudara angkat perempuan tidak dianggap incest dan tidak menghalangi pernikahan.
Selain hukuman mati, komunitas harus disucikan dengan darah babi dan ayam milik pelaku atau keluarganya, yang merupakan bentuk denda. Ketika bencana mengancam, seperti banjir besar, Kayan mencurigai adanya incest dan mencari buktinya. Suku lain (kecuali Punan) juga menghukum incest dengan mati. Di Dayak Laut, incest umum terjadi antara pemuda dan bibinya, karena sistem perceraian dan pernikahan ulang yang sering menimbulkan banyak hubungan kekerabatan.
Pembunuhan dan Kekerasan
Kayan tidak segan menumpahkan darah musuh, tetapi jarang berperang dengan sesama Kayan. Membunuh anggota Kayan lain, bahkan di rumah yang sama, jarang terjadi. Pelaku pembunuhan biasanya diwajibkan membayar kompensasi besar kepada keluarga korban, yang jumlahnya tergantung status sosial dan kekayaan pelaku. Jika tidak mampu, ia bisa menjual diri sebagai budak. Kepala suku biasanya mencegah balas dendam karena akan menghilangkan hak kompensasi. Dalam kasus tertentu, kepala suku bisa memerintahkan eksekusi pembunuh. Jika membunuh budak sendiri, tidak ada hukuman kecuali dilakukan di dalam rumah. "Mengamuk" sangat jarang; pelaku akan dilumpuhkan dan dibunuh di luar rumah. Mabuk saat melakukan kekerasan dianggap sebagai keadaan meringankan. Bunuh diri sangat dikutuk, dan arwahnya dipercaya hidup sengsara di Tan Tekkan. Bunuh diri terjadi karena perpisahan paksa kekasih.
Kejujuran, Kesopanan, dan Bahasa Moral
Pencurian atau perampokan sangat jarang. Meskipun ada godaan (misalnya buah-buahan di tepi sungai), hak milik biasanya dihormati. Pedagang asing yang berdagang di pedalaman dianggap aman di bawah perlindungan kepala suku. Kayan tidak selalu jujur; mereka cenderung membesar-besarkan dan memihak diri sendiri. Namun, kebohongan yang disengaja memalukan dan membuat seseorang tidak disukai.
Kayan sopan dalam bicara dan menjaga kesopanan tubuh. Meskipun pakaian minim, alat kelamin tidak pernah terbuka. Wanita Kayan mandi di sungai dengan cekatan tanpa telanjang. Pria Kenyah dan Klemantan di dataran tinggi tinggi kadang telanjang saat bekerja tanpa rasa malu.
Tidak ada kata dalam bahasa Kayan yang tepat berarti "keadilan". Mereka menggunakan tekap untuk situasi yang memicu persetujuan moral, dan nusi tekap untuk ketidaksetujuan. Ada kata untuk kualitas moral seperti tenang (bijaksana dan adil), haman (terampil, cerdik), makang (berani namun bisa berarti ceroboh), saioh (baik, ramah), jaak (buruk secara fisik), dan sala (buruk secara moral, mungkin pinjaman dari Melayu). Mereka kekurangan kata benda abstrak untuk kebajikan dan keburukan.
Pengaruh Agama dan Kepemimpinan
Ketakutan pada Toh mencegah pelanggaran adat, yang penting untuk ketertiban sosial. Peran dewa-dewa utama dalam mendatangkan atau menangkal bencana sangat samar. Ketaatan pada pertanda dan adat dianggap mendatangkan perlindungan dewa. Namun, standar moral tinggi Kayan dalam bertetangga, kejujuran, dan kesabaran tampaknya bertahan tanpa dukungan langsung agama.
Tingkat moral tinggi terlihat pada perilaku beberapa kepala suku utama Kayan dan Kenyah, seperti Laki Avit, Tama Bulan, dan Tama Kuling. Mereka menggunakan pengaruh untuk membangun perdamaian antarsuku, bukan untuk dominasi. Tama Bulan mengadakan pertemuan perdamaian yang sumpahnya dihormati lintas generasi. Tama Kuling juga mengejar kebijakan serupa.
Pengetahuan Medis dan Bedah
Kayan mengakui kematian alami karena usia tua dan penyakit, meskipun penyebabnya samar. Mereka menggunakan obat Eropa seperti kina untuk demam dan tembaga sulfat untuk penyakit frambusia. Mereka tahu bahwa kolera dan cacar menyebar melalui sungai, sehingga memblokir sungai dengan pohon tumbang atau tali rotan sebagai tanda larangan masuk. Mereka juga tahu risiko infeksi dari mayat korban wabah dan menyeretnya ke kuburan tanpa menyentuh.
Mereka memiliki pengetahuan dasar tentang tanaman obat. Daun orobong digunakan sebagai pencahar, jahe untuk pengobatan dalam dan luar, lemak ular sanca untuk obat gosok. Testis tupai kering yang dihaluskan dicampur lemak babi digunakan untuk mengobati impotensi. Kolik pada anak diobati dengan jus akar tanaman merambat yang dikunyah bersama pinang.
Bedah: Patah tulang dibalut dengan bilah bambu tipis. Bisul tidak dibuka dengan pisau, tetapi dibiarkan matang lalu ditekan. Luka bernanah dibersihkan dengan daun tembakau atau larutan garam. Luka bersih hanya dibalut. Perdarahan dihentikan dengan abu kayu. Sakit kepala diobati dengan menarik rambut, pijat untuk nyeri otot, dan "bekam" dengan cawan bambu panas untuk memar dalam. Operasi bekam memerlukan persembahan kecil karena melibatkan penumpahan darah.
Aritmatika dan Pengukuran
Kayan memiliki angka hingga 1.000 (mibu). Suku lain punya sistem serupa. Untuk menghitung objek yang tidak dapat dipegang, mereka menekuk jari tangan dan kaki secara berurutan, dimulai dari jari kelingking kanan, lalu kiri, lalu jempol kaki kanan dan kiri. Untuk jumlah besar, beberapa orang duduk berbaris, masing-masing mewakili 20 (10 jari tangan + 10 jari kaki) saat dihitung.
Perkalian dan pembagian hampir tidak dikenal. Kepala suku membayar pajak dengan meletakkan dua dolar per pintu tanpa menghitung total. Pengurangan dilakukan dengan cara paling konkret: menghitung benda, mengambil jumlah yang akan dikurangi, lalu menghitung sisanya. Beberapa Klemantan bingung dengan hitungan sederhana. Tama Bulan belajar menggunakan sempoa dari orang Cina. Anak-anak Kayan yang bersekolah belajar berhitung dengan kecepatan normal. Dayak Laut kadang menyimpan uang di kantor pemerintah dan tahu persis jumlahnya, tetapi saat menarik, mereka berharap mendapatkan uang logam yang sama.
Ukuran panjang: buka (rentang kedua tangan), buhak (rentang ibu jari ke jari telunjuk). Harga babi ditentukan oleh jumlah buhak yang melingkari tubuhnya. Jarak antar desa dinyatakan dalam waktu tempuh perahu melawan arus. Jarak darat dinyatakan secara samar, misalnya "jika Anda mandi di satu sungai, rambut Anda masih basah saat tiba di sungai lain" (sekitar satu jam), atau waktu matahari setinggi elang (sekitar jam 10 pagi). Ukuran benda padat dibandingkan dengan bagian tubuh, seperti lengan bawah, betis, paha.
Kosmologi dan Geografi
Kayan yang cerdas dapat mendeskripsikan geografi daerahnya dengan cukup baik dengan menata potongan kayu sebagai sungai dan daun sebagai bukit. Mereka tahu semua sungai mengalir ke laut, meskipun jarang melihat laut. Laut dianggap sebagai sungai besar yang anak sungainya adalah sungai utama. Dayak Laut kadang menyebut "Airopa" (Eropa) sebagai sungai Ropa, tempat tinggal orang putih. Mereka menganggap negeri asing seperti negeri mereka sendiri, berhutan dan bertepi sungai.
Rasi bintang dikenal dan memiliki nama serta mitos. Bintang dianggap sebagai lubang kecil di lantai dunia lain yang lebih terang. Langit dianggap kubah yang bertemu bumi, namun mereka sadar bahwa meski berhari-hari berjalan, ujung langit tidak pernah lebih dekat. Matahari dan bulan tidak dianggap hidup. Dua gerhana matahari total dalam setengah abad terakhir menjadi acuan penanggalan. Beberapa orang Kayan merenungkan pertanyaan mendalam: mengapa orang mati tidak kembali? Atau di mana letak rumah orang putih? Tama Bulan pernah mempertanyakan gerak matahari, dan setelah bertanya pada banyak orang Eropa, ia akhirnya menerima bahwa bumi berputar mengelilingi matahari.
Metode Argumentasi dan Humor
Kayan suka berdiskusi panjang sebelum bertindak. Mereka percaya pada kekuatan kata-kata. Dalam argumen, mereka suka menggunakan analogi, perumpamaan, metafora, dan humor yang agak berat. Mereka juga bisa menyampaikan sindiran melalui mimpi yang diceritakan.
Contoh: Dua orang Kayan bertengkar soal penjualan babi. Pembeli mengukur babi dengan rentang ibu jari ke jari tengah, bukan ke jari telunjuk sesuai adat. Kepala suku, bukannya menghardik, menjulurkan jari tengahnya ke arah pembeli, "Coba kalau ada yang menunjukmu seperti ini, bukannya dengan jari telunjuk. Pasti kalian semua akan menertawakannya." Semua orang tertawa, dan pembeli pun mengerti.
Contoh lain: Kepala suku prihatin karena adat menyediakan tikar besar (lampit) untuk tamu mulai ditinggalkan. Ia bercerita tentang tamu dari Batang Kayan yang memuji-ngaji rumah mereka yang masih punya lampit besar, sementara Kayan Baram sudah kaya tetapi kehilangan adat itu. Cerita ini menyebar, dan lampit besar kembali digunakan.
Humor Kayan sering muncul dari musibah kecil atau lelucon praktis, seperti menusuk bangkai babi busuk untuk mengeluarkan gas busuk ke arah teman di perahu. Cerita lucu sering mengandung sindiran seksual yang halus, bukan vulgar. Mereka juga suka meringkas cerita terkenal dengan satu dua kata, seperti "anggur asam".
Kesimpulan tentang Proses Mental
Penulis menolak anggapan bahwa proses mental suku-suku "primitif" berbeda secara fundamental dengan manusia modern. Mereka menegaskan bahwa semakin dekat pergaulan dengan suku-suku ini, semakin terlihat kesamaan proses mental mereka dengan kita.
"Kami tidak ragu untuk mengatakan bahwa semakin akrab seseorang dengan suku-suku pagan ini, semakin penuh ia menyadari betapa dekatnya kesamaan proses mental mereka dengan proses mental kita sendiri."
Impuls dan emosi dasar mereka sama. Mereka juga bertindak impulsif, mencapai kesimpulan secara tidak logis, dan memegang keyakinan yang saling bertentangan – sama seperti kita.